Musim kemarau telah tiba, dan ribuan warga di tiga desa di Kabupaten Mojokerto menghadapi masalah kekurangan pasokan air bersih. Salah satu desa bahkan sudah meminta bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Mojokerto.

Desa Kunjorowesi, yang terletak di lereng Gunung Penanggungan, merupakan desa yang paling terdampak. Persediaan air di desa ini semakin menipis setiap tahun saat musim kemarau. Desa Manduromanggunggajah dan Desa Duyung juga mengalami kekeringan. Total sekitar 4.600 jiwa di tiga desa tersebut terdampak kekurangan air.

Hingga saat ini, hanya Desa Kunjorowesi yang mengajukan permohonan bantuan air bersih ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). BPBD sedang mempersiapkan pengiriman air bersih ke desa-desa yang terdampak. Tahun ini, BPBD telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 199.500 juta untuk penanggulangan kekeringan.

Kekeringan terjadi karena tidak adanya sumber mata air di desa-desa tersebut. Masyarakat bergantung pada air hujan saat musim penghujan. Namun, kebutuhan air mereka tidak terpenuhi. BPBD akan melakukan dropping air bersih ke desa-desa tersebut sesuai dengan kebutuhan.

Bupati Kabupaten Mojokerto, Ikfina Fahmawati, telah meminta BPBD untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kekeringan dan bencana hidrometeorologi lainnya. Peningkatan resapan air selama musim hujan menjadi penting untuk mengatasi potensi kekeringan di masa depan.

Dalam menghadapi tantangan kekurangan air, kerjasama antara pemerintah, BPBD, dan masyarakat sangat dibutuhkan. Upaya mitigasi dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan harus menjadi prioritas agar masalah kekurangan air bersih dapat diatasi.